Senin, 09 September 2013

Ibu Hamil. Wewaler dan Pepeling Jawa

Kehamilan merupakan peristiwa sakral yang dialami oleh ibu, janin dan ayahnya. Kehamilan dianggap sebagai “laku” tapa brata, mengendalikan nafsu terutama yang bersumber dari indera mata, telinga, hidung, dan mulut. Pada saat menjalani kehamilan harus ada kekompakan antara suami dan istri. Pasangan harus menghindarkan diri dari percekcokan, tengkar mulut, bergunjing, menyakiti hati orang lain.
Saat kehamilan merupakan “laku” prihatin yang berat terutama bagi istri dan juga suami. Seluruh organ tubuh si ibu semua turut menjalani prihatin, gentur laku. Betapa tidak, karena organ tubuh harus bekerja dua kali lipat untuk menopang kehidupan tubuhnya sendiri dan tubuh si jabang bayi.  Jantung bekerja untuk memompa dua sirkulasi darah. Paru-paru digunakan untuk memompa udara agar tersebar ke dalam dua tubuh. Protein, vitamin, karbohidrat semuanya harus dibagi menjadi sumber hidup dua kehidupan. Kandungan kalsium ibu akan berkurang banyak (terutama jika mengandung bayi laki-laki), bahkan harus mengorbankan gigi-gigi dan tulang sang ibu untuk merelakannya menjadi keropos. Rambutpun menjadi kurang suplai makanan. Ibu harus rela berbagi kalsium atau zat kapur, pigmen, dan vitamin sehingga berakibat terjadinya kerontokan rambut yang parah. Enzim dan hormon ikut diperas untuk konsumsi si embrio sehingga sering menimbulkan guncangan emosi, stress dan depressi yang dialami ibu hamil maupun pasca melahirkan bayi. Di saat melahirkan, ibu masih harus berjuang meregang nyawa untuk mempertahankan kehidupan baru, yakni si jabang bayi sebagai generasi penerus kehidupan. Selama menempuh “laku prihatin” itu semua, si ibu tak boleh menggerutu, ngedumel, grenengan, sebagai pertanda ikhlas dan ketulusannya. Penderitaan dan keprihatinan yang mendalam yang dilalui dengan tulus akan mendatangkan berkah Tuhan Yang Maha Kuasa, merubah ucapannya menjadi idu geni. Apa yang dimohon dalam doa mudah terwujud (makbul). Apa yang dikatakannya mudah numusi (tijab).
Tugas suami adalah memberikan kasih sayang yang lebih, merawat, siap melayani 24 jam. Suami harus menciptakan suasana yang nyaman, tenteram dan aman agar diperoleh ketenangan lahir batin. Siang malam ibu bapa berdoa mohon keselamatan jiwa dan raga, untuk si jabang bayi, si ibu, dan keluarganya. Itulah sebabnya, jika wewaler dan pepeling tersebut apabila bisa dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka sudah menjadi keadilan Tuhan jika masa-masa kehamilan akan disertai berkah dan anugrah agung untuk keluarga. Hanya saja, dibalik tijabnya perkataan (idu geni) ternyata berlaku untuk semua perkataan yang keluar dari mulut. Baik istri maupun suami harus eling dan waspada selalu menjaga tabiat, perbuatan dan ucapannya agar melakukan hal-hal yang sebaik-baiknya. Karena sifat idu geni berlaku untuk kalimat dan kata-kata yang baik maupun yang buruk. Jika yang keluar dari mulut selalu perkataan baik, jika terjadipun merupakan hal yang baik. Sebaliknya jika yang terucap dari mulut merupakan perkataan kotor, jorok dan buruk akan sangat berbahaya jika numusi untuk si jabang bayi dan diri sendiri. Maka terdapat larangan (ora ilok atau pamali) jika bertingkah dan mengatakan hal-hal yang sifatnya buruk, misalnya bergunjing, memaki, dan mencela orang lain, bahkan mencela serta menyakiti binatang pun tidak boleh dilakukan. Sampai-sampai saat istri hamil, si suami tidak boleh melakukan sendiri menyembelih ayam atau kambing sekalipun untuk suatu keperluan dan acara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar